Survei Nasional, 65% Masyarakat Bersedia Divaksinasi COVID-19

Vaksin dan Disiplin 3M kunci basmi COVID-19. Perlu gencarkan komunikasi dan edukasi masyarakat

Kementerian Kesehatan bersama Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) dengan dukungan UNICEF dan WHO melakukan survei nasional tentang penerimaan vaksin COVID-19, mengumpulkan tanggapan lebih dari 115.000 orang, dari 34 provinsi yang mencakup 508 kabupaten/kota atau 99 persen dari seluruh kabupaten/kota, berlangsung pada 19-30 September 2020 dengan tujuan untuk memahami pandangan, persepsi, serta perhatian masyarakat tentang vaksinasi COVID-19.

Tingkat Pengetahuan Vaksin

Sekitar 74% responden mengaku sedikit banyak tahu  rencana Pemerintah untuk melaksanakan vaksinasi COVID-19 secara nasional. Persentasenya bervariasi antar provinsi.

Sekitar 61% responden di Aceh menjawab tahu rencana Pemerintah terkait distribusi vaksin COVID-19; sedangkan di beberapa provinsi di Sumatera, Sulawesi, dan Kepulauan Nusa Tenggara ada 65–70% responden yang mengetahui informasi tersebut. Jumlah responden di provinsi Jawa, Maluku, Kalimantan, Papua, dan sejumlah provinsi lain yang mengetahui informasi tersebut lebih tinggi, yaitu sekitar 70%.

Responden berpenghasilan rendah tingkat pengetahuannya terkait vaksin paling rendah. 
Tingkat pengetahuan tentang informasi tersebut cenderung naik sesuai dengan tingkatan status ekonomi responden. Diduga disebabkan tingginya akses ke informasi yang dimiliki responden dengan status ekonomi tinggi.

Tingkat Penerimaan Vaksin

Sekitar 65% responden menyatakan bersedia menerima vaksin COVID-19 jika disediakan Pemerintah, sedangkan delapan persen di antaranya menolak. 27% sisanya menyatakan ragu dengan rencana Pemerintah untuk mendistribusikan vaksin COVID-19. 

Tingkat penerimaan vaksin tertinggi (69%) berasal dari responden yang tergolong kelas menengah dan yang terendah (58%) berasal dari responden yang tergolong miskin. Secara umum, makin tinggi status ekonomi responden, makin tinggi tingkat penerimaannya. Namun, penolakan tertinggi ditunjukkan responden yang tergolong ekonomi tertinggi (12%) dan yang terendah ditunjukkan responden kelas menengah (7%). 

Tingkat penerimaan tertinggi (75%) berasal dari responden Katolik dan Kristen sedangkan yang terendah (44%) berasal dari responden yang menolak memberitahukan kepercayaannya diikuti dengan penganut Konghucu, animisme, dan kepercayaan lainnya (56%). Sekitar 63% responden Muslim bersedia menerima vaksin dan sekitar 29% di antaranya belum memutuskan untuk menerima atau menolak vaksin.

Tingkat penerimaan vaksin COVID-19 antara responden laki-laki dan perempuan hampir sama. 10% responden laki-laki menyatakan menolak divaksin dan kurang dari lima persen responden perempuan menyatakan demikian. Lebih jauh, responden perempuan tampak lebih ragu daripada responden laki-laki.

Responden mengungkapkan kekhawatiran terhadap keamanan dan keefektifan vaksin, menyatakan ketidakpercayaan terhadap vaksin, dan mempersoalkan kehalalan vaksin. Alasan penolakan vaksin COVID-19 paling umum adalah terkait dengan keamanan vaksin  (30%); keraguan terhadap efektifitas vaksin (22%); ketidakpercayaan terhadap vaksin (13%); kekhawatiran adanya efek samping seperti demam dan nyeri (12%); dan alasan keagamaan (8%).

Kesimpulan
• Sekitar 74% responden telah mengetahui tentang potensi vaksin COVID-19 yang sedang dikembangkan walaupun informasi yang didapat bervariasi berdasarkan wilayah dan status ekonomi responden.
• Responden yang tergolong miskin paling sedikit mendapat informasi mengenai vaksin sementara responden kelas atas sebaliknya.
• Sekitar dua pertiga responden kemungkinan besar bersedia divaksin dan responden yang masih ragu mempertanyakan faktor-faktor terkait vaksin.
• Penerimaan bervariasi antarwilayah; terendah di Aceh dan tertinggi di Papua Barat.
• Penerimaan tertinggi berasal dari responden kelas menengah dan paling rendah dari responden yang tergolong miskin.
• Responden Muslim penerimaannya lebih rendah dari responden Hindu, Kristen, dan Katolik.
• Responden tanpa asuransi kesehatan tingkat penerimaannya paling rendah.
• Ada kekhawatiran cukup besar terkait keamanan dan efektifitas vaksin; ketidakpercayaan terhadap vaksin; dan persoalan kehalalan vaksin.

Baca juga:
Mitos Vaksin Salah, Faktanya Vaksin Aman. BPOM Kawal Keamanan, Khasiat dan Mutu Vaksin COVID-19

 

Sumber: Satgas COVID-1

0 Komentar