Solusi Sehat, BPP Loceret dan Dinas Pertanian Nganjuk Kenalkan Produk Hidroponik 'Natanfarm'

Digagas oleh Yeti Marenta sebagai solusi sehat sayuran segar, sehat bebas pestisida

NGANJUK, PING - Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Loceret bekerjasama dengan Dinas Pertanian terus berbagi informasi dan edukasi kepada sahabat tani di Kota Bayu. Kali ini dalam program acara 'Beranda Kominfo' 105,3 RSAL FM, Senin(26/9/2022). Dipandu host Asti Hanifa acara tersebut mengusung tema 'Natanfarm Segar, Sehat, Tanpa Pestisida'.

Hadir sebagai narasumber Hastajoko selaku PPL BPP Loceret, Joko Nugroho PPL BPP Loceret sekaligus mewakili Dinas Pertanian Nganjuk, Yeti Marenta selaku owner/pemilik usaha Natanfarm, dan hadir pula anggota Pusat Agribisnis Kecamatan Loceret.

Sedikit bercerita tentang awal mula tercipta sebuah produk sayuran hidroponik 'Natanfarm' itu Yeti menjelaskan sebagai pelaku usaha, pemilik, petani sekaligus marketing Natanfarm. Ia tertarik budidaya tanaman hidroponik sejak tahun 2014. "Awalnya saya hanya melihat kanal youtube tentang budidaya tanaman hidroponik akhirnya saya mencari tahu tentang bagaimana cara budidaya tersebut. Hingga akhirnya tahun 2018 saya memberanikan diri untuk memulai budidaya tanaman hidroponik itu dengan sharing bersama BPP Loceret dan Dinas Pertanian", ungkap Yeti.

Saat ini dikatakan Yeti budidaya tanaman hidroponiknya sudah berkembang dari 200 titik tanam hingga saat ini menjadi 7000 titik tanam dengan luas greenhouse yakni seluas 300 meter persegi.

Baca Juga : Bersama BPP Sukomoro, Kelompok Tani Tunas Harapan Sukomoro Kenalkan Produk Pertanian 'Freedom'

Wanita yang berlatarbelakang pendidikan di bidang kesehatan itu sempat bertukar pikiran dengan sahabatnya yang bergelut di dunia pertanian. Ia melihat bahwa sayuran yang selama ini banyak dikonsumsinya dan  juga masyarakat mengandung pestisida yang cukup banyak dan tentu tidak bisa hilang begitu saja. Sehingga tetap termakan dan masuk tubuh manusia. "Maka saya mempunyai inisiasi bahwa sayuran hidroponik ini adalah solusi tepat untuk menuju sehat", tuturnya.

Awalnya jenis sayuran yang ia tanam ada tiga jenis sayuran yakni selada dengan masa tanam hingga panen membutuhkan waktu sekitar 35 hari, kangkung sekitar 20 hari dan sawi pokcoi sekita 45 hari. Namun saat ini Yeti juga sedang melakukan budidaya buah melon hidroponik yang belum lama ini ia gagas. 

Dalam hal pemasaran Yeti juga memiliki strategi yakni dalam memasarkan produknya yang terpenting adalah kualitasnya. Baik kualitas produk maupun penampilan atau kemasan dari produk itu sendiri. Selain itu juga dengan memanfaatkan teknologi saat ini yakni media sosial. "Sedangkan untuk pemasaran offline ia lakukan melalui agen yang telah berkembang di 4 kota yakni Nganjuk, Kediri, Blitar dan Jombang. Target pasar yang kami tuju yaitu ke supplier yang menjual di supermarket dan juga langsung ke rumah tangga atau para penjual makanan", terang ketua Pusat Agribisnis Loceret itu.

Baca Juga : Dinas Pertanian Nganjuk Adakan Gerakan Pengendalian OPT Tembakau dari DBHCHT

Kepada masyarakat Kota Bayu, Yeti memberikan motivasi jika ingin berbudidaya sayuran hidroponik seperti dirinya jangan pernah takut mencoba dan belajar. "Semua bisa menanam secara hidroponik dan bagi yang ingin membeli produk Natanfarm bisa didapatkan di Pusat Agribisnis Loceret tepatnya depan kantor Kecamatan Loceret", pungkasnya.

Sementara itu Joko Nugroho menyampaikan bahwa pihak PPL Loceret dan Dinas Pertanian terus berupaya dan mendampingi dari segi pemasaran. "Kami sebagai PPL telah mengupayakan membantu dalam segi pemasaran seperti menjual ke agen atau jika ada event kita juga ikut mengenalkan sayuran hidroponik ini. Pemasaran ini dilakukan sejak tahun kemarin saat pandemi covid 19", jelasnya.

Menurut Joko yang menarik dari sayuran hidroponik ini adalah dari segi tampilan yang terlihat lebih utuh tidak bolong, lalu lebih aman dikonsumsi karena tidak ada pestisida, dan lebih segar dan tahan lama/ tidak mudah layu. "Sebagai konsumen tentu bisa membedakan sayuran hidroponik dengan sayuran yang biasa ditanam di tanah, kualitasnya sangat berbeda", ungkapnya.

Baca Juga : Cegah PMK, Dinas Pertanian Gencarkan Sosialisasi Kepada Peternak Sapi

Lebih lanjut Hasta yang juga sebagai PPL Loceret mengaku mulai mendampingi Yeti sebagai PPL sejak tahun 2019. "Awalnya sekedar memberikan solusi kepada Ibu Yeti yang ingin memanfaatkan tanah pekarangan yang terbatas agar bermanfaat minimal bagi keluarga sendiri, namun akhirnya bisa berkembang sebagai usaha di bidang sayuran hidroponik sampai saat ini", paparnya.

Dikatakan Hasta ada tantangan tersendiri dalam menanam sayuran hidroponik ini. Menurutnya memang cukup sulit karena hidroponik adalah tanaman yang harus aman dari serangan hama dan penyakit. Sebagai perlindungan harus membuat greenhouse dengan beratapkan plastik ultraviolet (UV) sehingga bebas dari serangan hama dan penyakit serta tidak ada residu pestisida. "Hanya untuk memacu tumbuh kembangnya digunakan nutrisi yang dicampur di media tanamnya yaitu air", tambahnya.

Baca Juga : Antisipasi Wabah PMK, Dinas Pertanian Nganjuk Perketat Pengawasan di Pasar Hewan

Untuk menanam hidroponik diperlukan 3 metode yaitu Deep Flow Technique (DFT) agar air tidak menggenang, Nutrient Film Technique (NFT) untuk sirkulasi air agar bisa mengalir, dan Wick System atau rakit apung dengan media sumbu. "Medianya bisa menggunakan limbah botol, kaleng bekas namun yang terpenting di sini adalah pengelolaan nutrisinya", imbuhnya. 

Kemudian Hasta dan jajaran PPL Loceret serta Dinas Pertanian Nganjuk mengaku siap membantu melakukan pendampingan bagi warga Nganjuk yang ingin mencoba berbudidaya tanaman hidroponik ini. "Monggo masyarakat Nganjuk yang ingin belajar, sharing dan sebagainya seputar tanaman hidroponik, kami siap melayani", tutupnya.

 

0 Komentar