Riset Vaksin Merah Putih Jadi Tonggak Sejarah Dua Tahun Pandemi

BRIN: Periset Diberikan Kesempatan Mengembangkan Vaksin COVID-19

NGANJUK, PING-Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menuturkan pengembangan vaksin dimulai dari nol. Karena belum pernah dilakukan di Indonesia sebelum pandemi COVID-19.

Pada saat pandemi COVID-19 melanda Tanah Air, Pemerintah Indonesia berupaya mengalokasikan sumber daya dan mendukung riset untuk mampu menciptakan vaksin sendiri yang risetnya dimulai dari nol. Yakni bibit vaksin dibuat oleh periset Indonesia.

Hal tersebut dilakukan untuk mendorong kemandirian bangsa dalam memenuhi kebutuhan vaksin COVID-19 bagi seluruh masyarakat Indonesia. Karena hingga saat ini, vaksin COVID-19 masih didatangkan dari luar negeri.

“Progres paling cepat untuk pengembangan vaksin Merah Putih adalah yang dikembangkan Universitas Airlangga dengan platform inactivated virus atau berbasis virus yang dilemahkan atau dimatikan. Saat ini sedang dalam proses uji klinis tahap 1,” terang Laksana.

Perlu diketahui, selain Universitas Airlangga, ada enam tim lain yang turut mengembangkan vaksin Merah Putih. Semua tergabung dalam konsorsium nasional untuk pengembangan vaksin Merah Putih.

Para tim di dalam konsorsium nasional untuk pengembangan vaksin Merah Putih tersebut adalah Universitas Airlangga, Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Padjadjaran, eks-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

Tiap tim mengembangkan vaksin Merah Putih dengan metode yang berbeda. Mulai dari vaksin yang berbasis inaktivasi virus hingga rekombinan protein. “Bisa dikatakan Vaksin Merah Putih adalah tonggak sejarah dua tahun sejak terjadinya pandemi COVID-19,” tandasnya.

 

Sumber: ANTARANEWS.com

0 Komentar