judul

Tidak Hilangkan Tradisi, sebagai Ungkapan Rasa Syukur dan Hormati Leluhur

NGANJUK, PING-Tahun 2021, Kabupaten Nganjuk genap berusia 1.084 tahun. Namun masih berlangsung dalam pandemi COVID-19. Sebagai perwujudan rasa syukur dan rasa penghormatan bagi leluhur, Pemkab Nganjuk tetap menggelar peringatan. Namun berlangsung sederhana.

Peringatan hari jadi ke 1.084 kali ini mengusung tema ‘Angaleluri Budaya Agawe Kuncaraning Bangsa, Nyawiji Hambangun Nagari’. Tema itu dipilih sebagai semangat dan harapan Kota Bayu di bawah kepemimpinan Bupati H. Novi Rahman Hidhayat, S.Sos, MM dan Wakil Bupati DR. Drs. H. Marhaen Djumadi, SE, SH, MM, MBA agar semakin maju, nyawiji dan bermartabat.

Rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk ke 1.084 dimulai dengan pelaksanaan khotmil Alquran, di masing-masing kantor organisasi perangkat daerah (OPD), Jumat (09/04/2021). Kemudian, tasyakuran sederhana. Dan seluruh pegawai di lingkungan Pemkab Nganjuk juga ikut merayakan, yakni dengan mengenakan pakaian adat Jawa selama bertugas.

Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk Drs. Gunawan Widagdo, M.Si menjelaskan, peringatan hari jadi tetap dilaksanakan. Namun dengan kegiatan yang terbatas. “Tasyakuran ini memang lebih sederhana, namun tidak menghilangkan tradisi yang sudah ada dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan. Dan berlangsung di satuan kerja masing-masing,” ujarnya kepada PING tentang kegiatan guna meminimalisir kerumunan itu.

Gunawan menuturkan, pada malam harinya, jajaran pimpinan OPD Pemkab Nganjuk juga mengikuti acara ziarah di makam Bupati Nganjuk pertama, yakni Kanjeng Jimat. Serta di makam Singosari, Berbek. “Hal ini dimaksudkan sebagai wujud syukur dan penghormatan kepada leluhur,” imbuhnya.

Selain itu, sebagai simbol peringatan hari jadi, Pemkab Nganjuk juga megadakan kirab boyongan pusaka. Kirab dimulai dari Kecamatan Berbek, menuju Pendopo Kabupaten Nganjuk. Kirab dipimpin Bupati Nganjuk H. Novi Rahman Hidhayat, S.Sos, MM bersama beberapa orang pilihan yang bertugas membawa pusaka tombak Kyai Jurang Penatas dan payung Kyai Tunggul Wulung. “Sebagai simbol perpindahan ibukota dari Berbek ke Nganjuk,” lanjut Gunawan tentang prosesi yang rutin berlangsung setiap tahun itu.

0 Komentar