Pemdes Senjayan Cegah Stunting dengan Ceting E Abah Kolel

Manfaatkan Bank Sampah, Pekarangan dan Kolam Lele untuk Cukupi Gizi

NGANJUK, PING- Organisasi kesehatan dunia atau WHO telah menetapkan kasus stunting paling tinggi di suatu wilayah maksimal adalah 20 persen. Sedangkan di Desa Senjayan, Gondang angka stunting mencapai 24,13 persen pada tahun 2018. Atas dasar itu, Pemerintah Desa (Pemdes) Senjayan, Kecamatan Gondang berinovasi dalam mencegah stunting atau kerdil di wilayahnya. Adalah program bernama Ceting E Abah Kolel yang menjadi inovasi untuk pencegahan stunting tersebut.

Program tersebut diluncurkan oleh Pemdes Desa Senjayan pada 26 Februari 2020. Program tersebut memanfaatkan bank sampah, pekarangan maupun kolam lele. Salah satu tujuannya adalah mencukupi kebutuhan gizi.

Kepala Desa Senjayan Sumardji mengungkapkan, program dianggap berhasil. Keberhasilan tersebut menurut Sumardji dikarenakan mendapat dukungan semua pihak. Baik masyarakat, kader, pemdes maupun pihak terkait lainnya yang senantiasa bersikap. 

“Ceting E Abah Kolil ini adalah upaya bersama seluruh pihak Desa Senjayan untuk mencegah stunting. Kolam lele kami manfaatkan untuk pemenuhan gizi masyarakat, terutama balita,” tuturnya kepada PING, Selasa (05/10/2021).

Inovasi tersebut akhirnya sampai pada telinga Plt Bupati Nganjuk DR. Drs. H. Marhaen Djumadi, SE, SH, MM, MBA. Sumardji menyebut, Kang Marhaen sempat berkunjung ke desanya untuk melihat Ceting E Abah Kolel.

Menurut Kang Marhaen, ia sangat bangga dan mengapresiasi upaya yang dilakukan Pemdes Senjayan dalam rangka mengentas stunting di sana. Dari program tersebut, kata Kang Marhaen, stunting di sana bisa ditekan. 

“Yang semula tahun 2018 sebanyak 24,13 persen, tahun 2020 menjadi 13,54 persen. Alhamdulillah tahun 2021 di Desa Senjayan tidak ditemukan lagi kasus baru stunting. Semua ini berkat inovasi cegah stunting dengan memanfaatkan bank sampah, tanah pekarangan, dan kolam lele,” kata Kang Marhaen.

Sementara itu, Agnes Sunarmi selaku inovator atau bidan desa setempat menambahkan, pihaknya bersama pemdes senantiasa menanamkan kesadaran kepada masyarakat. Terutama upaya menciptakan kemandirian masyarakat dalam mengatasi stunting, dengan cara mencukupi kebutuhan gizi menggunakan bahan menu olahan lokal

“Keunikan program Ceting E Abah Kolel ini adalah jika biasanya pemerintah memberi pemberian makanan tambahan untuk penanganan stunting, namun di Desa Senjayan sebaliknya. Kami menciptakan pemberian makanan tambahan sendiri dan mandiri,” tambahnya.

Sebagai informasi, stunting adalah kondisi tinggi badan anak lebih pendek dari standar usianya akibat kekurangan gizi pada seribu Hari Pertama Kehidupan (HPK). Dampaknya adalah penurunan kecerdasan dan produktivitas anak di masa depan. Dari data yang ditemukan di lapangan, stunting berasal dari masalah pola asuh, pola makan, dan kurangnya gizi dari orang tua kepada anak.

Inovasi Pemdes Senjayan tersebut tidak lepas dari peran serta Pemerintah Kecamatan Gondang. Berbagai upaya dilakukan pihak Pemerintah Kecamatan Gondang kepada Pemdes Senjayan.

Mulai pemberian dukungan, arahan, hingga pembinaan. Khususnya pembinaan dalam mewujudkan bank sampah dan lingkungan, melalui program Desa/Kelurahan Berseri tahun 2019.

Hasilnya, Desa Senjayan berhasil menyabet juara pertama di tingkat kecamatan. Kemudian, menjadi wakil di tingkat kabupaten. Serta mengikuti lomba serupa di tingkat provinsi.

“Selain pembinaan, kami juga mendorong perluasan atau duplikasi program serupa untuk dikembangkan oleh pihak pemerintah kecamatan, ke desa-desa lain di Gondang. Agar hasil yang baik ini menyebar,” tutur Camat Gondang, Drs. Darmantono. (Cy/Cs)

0 Komentar