Gencar Edukasikan Seputar HIV/Aids, KPAD Nganjuk Sasar Warga Kecamatan Sawahan

Peran aktif dan peduli seluruh lapisan masyarakat sangat diperlukan dalam menangani HIV/Aids

NGANJUK, PING- Kasus HIV/Aids di Kabupaten Nganjuk masih terbilang tinggi. Berdasarkan Data Seksualitas ODHA sejak tahun 2002 hingga Mei 2022 tercatat 50 persen kasus positif HIV/Aids terjadi pada wanita, 47 persen pada pria dan 3 persen pada gay/waria. Hal inilah yang menjadi konsen utama Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kabupaten Nganjuk. Kali ini wilayah Kecamatan Sawahan tak luput dari sasaran KPAD Nganjuk untuk kembali melakukan sosialisasi seputar HIV/Aids pada masyarakat. Rangkaian kegiatan itu dilakukan secara berurutan diawali Desa Bareng, Desa Siwalan, Desa Margopatut, Desa Sidorejo, Desa Sawahan, dan terakhir Desa Ngliman yang berlangsung di Balai Desa masing-masing. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan September setiap Senin dan Kamis, dengan peserta masing-masing mencapai 40 orang.

Hadir dalam kegiatan tersebut sejumlah perangkat desa, kader PKK, perwakilan lembaga desa, karang taruna, tokoh masyarakat, serta tokoh agama dari masing-masing desa. Selain itu juga dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Nganjuk, Puskesmas Sawahan (pengelola program HIV), serta beberapa relawan.

Setiadi selaku Sekretaris KPAD Nganjuk mengatakan bahwa ada dua jenis kegiatan yang dilaksanakan pada masing-masing desa diantaranya sosialisasi untuk  ibu-ibu kader PKK dan sosialisasi tentang kewaspadaan serta kepedulian masyarakat terhadap penyebaran HIV/Aids di lingkungan desa. 

Mengingat begitu pentingnya informasi mengenai HIV/Aids ini, diharapkan Setiadi dapat tersampaikan kepada seluruh masyarakat desa yang ada di Kecamatan Sawahan tanpa terkecuali. "Kami berharap nantinya peserta akan bisa menyampaikan informasi ini kepada keluarga, tetangga, atau lingkungan masyarakat disekitarnya," harapnya.

Terlebih untuk jajaran perangkat desa, tokoh masyarakat maupun agama dan organisasi pemuda desa agar selalu peka terhadap semua kejadian yang mungkin terjadi di lingkungan desa masing-masing, khususnya yang berkaitan dengan penyebaran HIV/Aids.

"Seperti status warganya, keberadaan kost-kostan, adanya warung remang-remang, dan lain-lain. Memang setelah dilakukan penutupan lokalisasi maka penyebaran pelaku resiko tinggi (WPS) sulit untuk dideteksi. Sehingga peran masyarakat disini untuk aktif dan peduli sangat diperlukan," pungkasnya.

0 Komentar