Dinsos PPPA Dukung Upaya Pencegahan Perundungan di Sekolah

Kirimkan Wakil Ikuti Pelatihan Calon Fasilitator untuk Replikasi ROOTS

NGANJUK, PING-Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) menyelenggarakan program ROOTS. ROOTS merupakan program yang diinisiasi oleh United Nations Children’s Fund (UNICEF) bersama Kemendikbud Ristek guna mencegah terjadinya perundungan, yang dapat diimplementasikan oleh satuan pendidikan. Program tersebut turut mendapat dukungan dari PLATO Foundation, yayasan yang peduli terhadap anak dan perundungan. 

Guna program tersebut berjalan masif, PLATO Foundation melaksanakan pelatihan secara daring. Pelatihan dikhususkan bagi 200 orang calon fasilitator. Fasilitator tersebut diharapkan dapat mereplikasi program tersebut, dan diimplementasikan di tingkat satuan pendidikan.

Di Pulau Jawa, ROOTS dilaksanakan di enam provinssi. Yakni Jawa Timur; Jawa Tengah; Jawa Barat; Daerah Istimewa Yogyakarta; DKI Jakarta dan Banten. Pada pelatihan itu, PLATO Foundation menggandeng Yayasan Setara dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten sebagai mitra untuk melaksanakan kegiatan yang berlangsung dua gelombang. Yakni 14-16 Juli 2021, dan 17-19 Juli 2021.

Sebagai bentuk dukungan, Kabupaten Nganjuk turut mengirim wakilnya untuk mengikuti pelatihan tersebut. Pelatihan diikuti oleh Agus Sugianto, SH selaku Kabid Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Nganjuk. Kemudian, Claudya Putri Dewanti, SH selaku Fasilitator Forum Anak Nganjuk. Serta Putri Rahayu Arinta, S.Hum selaku Admin Simponi Woman Crisis Center (WCC).

Agus menyampaikan, pihaknya menyambut baik replikasi ROOTS tersebut. Menurutnya, ROOTS mengedepankan perubahan perilaku siswa ke arah yang lebih positif. “Dan membangun iklim sekolah yang aman, nyaman dan bersahabat,” ujarnya kepada PING, Senin (19/07/2021).

Agus lantas mengutip survey yang dilakukan Global School Health. Bahwa perundungan masih sering dilakukan. Setidaknya sekitar 21 persen anak usia 13 – 15 tahun di Indonesia, mengalami perundungan.

Sedangkan menurut data yang dihimpun Chat Sabahat Anak (CASA) yang merupakan inoasi dari Forum Anak Jembatan Aspirasi (FANTASI) yang juga binaan Dinsos PPPA Kabupaten Nganjuk, tahun 2020 mendapat sebanyak 217 laporan atau aduan. Dan hingga bulan Juni 2021, telah mendapat laporan sebanyak dari 62 anak. 

“Itupun ibarat seperti fenomena gunung es. Yang nampak di permukaan yang lapor saja. Saya yakin masih ada yang belum berani melapor. Karena takut atau dengan alasan lain. Oleh karena itu, saya sependapat dengan ungkapan Mendikbud Ristek. Bahwa dalam dunia pendidikan ada tiga dosa yang harus diperangi. Yakni intoleransi, kekerasan seksual, dan perundungan,” tegas Agus.

“Perundungan perlu menjadi perhatian dan melibatkan berbagai pihak untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi. Untuk perecepatannya, dapat dengan membangun pola kolaborasi. Misalnya menggandeng Dinas Pendidikan, Dinsos PPPA, Kementerian Agama, Cabang Dinas Pendidikan, lembaga swadaya masyarakat, organisasi perempuan, maupun media massa. Dengan semangat bersama berjuang menghapus perundungan di dunia pendidikan,” pungkasnya.

(Bay)

 

Baca juga:

0 Komentar