BMKG Ingatkan Bahaya Awan Cumulonimbus

Himbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrim

Nganjuk, PING - Salah satu pemicu cuaca buruk ketika hujan lebat adalah penumpukan awan berlebihan atau disebut Cumulonimbus (CB).  Masyarakat juga disarankan mengenali ciri ciri awan tersebut ketika terjadi hujan, sehingga bisa waspada lebih dini. Hal tersebut disampaikan oleh Setiyaris selaku Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) Muda BMKG Kabupaten Nganjuk saat menghadiri acara talkshow RSAL FM Rabu (14/6/2022).

Dijelaskan Setiyaris, fase terbentuknya awan hingga potensi bahaya yang terjadi. Fase awal, terbentuknya awan  cumulonimbus dimulai dari naiknya massa udara lembab, perlahan mendingin, serta berkondensasi membentuk awan awan cumulus. Kemudian fase matang, ditandai dengan mulainya adanya arus udara turun.

Pada fase ini, puncak awan dapat tumbuh mencapai lapisan atmosfer yang sangat tinggi dan membentuk landasan awan (anvil). Ketiga fase meluruh, dimulai saat updraft melemah dan didominasi oleh downdraft (hujan turun) pada sebagian besar sistem awan. Awan CB yang tumbuh pada area dengan geser angin  kuat dapat tumbuh lebih dahsyat.

“Potensi bahaya ini bisa mengancam aktivitas penerbangan, terkait beberapa fenomena dari awan CB, seperti microburst, downburst, turbulensi, hujan deras, maupun bongkahan es,” jelasnya.

Lebih lanjut Setyaris mengatakan bahwa musim kemarau tahun ini diprediksi mengalami kemunduran waktu. Menurutnya, beberapa daerah di Indonesia akan mengalami keterlambatan waktu musim kemarau.

Hal ini karena analisa BMKG menunjukan La Nina dan potensi peningkatan curah hujan masih dapat terjadi, hingga pertengahan tahun 2022. BMKG menyebut, musim kemarau tahun ini akan datang lebih lambat dibanding biasanya.

“Curah hujan yang masih tinggi, pada waktu yang seharusnya musim kemarau. Terjadi di beberapa daerah, khususnya di Pulau Jawa. Hal ini membuat Pulau Jawa berpotensi mengalami kemarau basah. Musim kemarau basah adalah periode waktu kemarau, namun tetap terjadi hujan,” pungkasnya.

Setiyaris menghimbau masyarakat agar tetap waspada dan hati hati terhadap potensi – potensi cuaca ekstrim seperti puting beliung, hujan lebat disertai petir maupun kilat, hujan es dan lain lain. Dan dampak yang ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin.

“Untuk masyarakat yang tinggal di perbukitan, pegunungan maupun yang di lereng, jika terjadi hujan lebat dalam waktu yang lama, wajib untuk bersiap karena potensi bencana pasti ada,” himbaunya. (Cs/Yos)

0 Komentar