Pisowanan Agung Tumenggung Kopek Pakuncen Hadiningrat

Tradisi adiluhung yang menunjukkan hubungan antara Tuhan dengan raja dan rakyatnya

Nganjuk, PING- Alunan gending Jawa terdengar, mengiringi prosesi tradisi adiluhung di Desa Pakuncen Kecamatan Patianrowo. Semerbak harumnya dupa juga tercium di sekitar Makam Tumenggung Kopek di Desa Pakuncen. Minggu, (13/08/2023) di area tersebut dilaksanakan Pisowanan Agung Tumenggung Kopek, di Desa Pakuncen Kecamatan Patianrowo. Suatu tradisi adiluhung yang menunjukkan hubungan antara Tuhan dengan raja dan rakyatnya, Tuhan dengan umatnya.

Prosesi yang menarik masyarakat banyak terutama penduduk sekitar, dihadiri langsung oleh Keluarga Keraton Jogjakarta yang dipimpin oleh Kanjeng Pangeran Haryo Wongso Sentono. Prosesi diawali dengan penyambutan tamu keluarga dan disusul dengan sowan leluhur, atau ziarah ke makam leluhur yang berada di area makam. Sebelum memasuki area makam, para peziarah terlebih dahulu harus sesuci, atau membersihkan tangan, kaki dan wajah, atau berwudlu.
Beberapa keluarga keraton dan abdi dalem, juga melaksanakan sholat sunah di masjid sebelum melaksanakan prosesi Unduh-unduh Patirtan.

Pada prosesi Unduh-unduh Patirtan, diawali dengan penyerahan pusaka berupa Payung Gringsing yang akan mengiringi kirab Mlebet Keputren Sentono Dalem Pakuncen Hadiningrat. Iring-iringan keluarga keraton dan para abdi dalem menuju Sentono Dalem Pakuncen menarik perhatian masyarakat. Disepanjang jalur menuju Sentono Dalem Pakuncen, warga sudah memadari area untuk menyaksikan secara langsung kirab ini.

Masuk Sentono Dalem Pakuncen, dilanjutkan dengan berdo’a dan nyenggot (Pengambilan Air dari sumber Sumur Kaputren) yang selanjutnya dituangkan ke Kendi Tirto Wening. Kendi Sapto Tirto Wening ini selanjutnya diserahkan kepada 7 orang gadis pembawa kendi, dan dibawa kembali menuju Pisowanan Agung.

Baca Juga : Kang Marhaen Hadiri Prosesi Siraman Sedudo

Kedatangan rombongan yang diringingi oleh pusaka kerajaan, panji-panji, gunungan tumpeng serta aneka sesajeng ini, setibanya di Pisowanan Agung disambut oleh Tari Bedoyo Balabak.

Kanjeng Pangeran Haryo Wongso Sentono, dari keluarga Keraton Jogjakarta menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak desa dan warga yang sudah iku mendukung jalannya prosesi ini. “Saya juga ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah Kabupaten Nganjuk atas dukungan dan perhatiannya demi terlaksananya Pisowanan Agung ini,” ungkap Pangeran Haryo.

Baca Juga : Pawai Alegoris dan Kirab Pusaka Tandai Napak Tilas Sejarah Nganjuk yang Ke-1086

Sementara itu, mewakili Bupati Nganjuk, Kepala Dinas PMD, Puguh Harnoto, menyampaikan salam dari Bupati Nganjuk, sekaligus permohonan maaf tidak bisa menghadiri secara langsung karena beberapa kegiatan yang tidak bisa ditinggalkan. “Saya ucapkan selamat atas terlaksananya acara ini, dan semoga untuk kedepannya acara ini akan mampu mendatangkan wisatawan, baik domestik maupun wisatawan asing,” harap Puguh. Menurutnya, kita patut berbangga bahwasanya wilayah yang kecil ini juga merupakan bagian sejarah besar dari Keraton Jogjakarta.

Sejarah Singkat Pakuncen dan  Prosesi Pisowanan Agung

Kanjeng Pangeran Haryo Wongso Sentono, secara langsung berkesempatan membacakan sejarah singkat Pakuncen Hadiningrat. Kurang lebih pada tahun 1650 Masehi, Kyai Nurjalifah dengan dua orang saudaranya telah menyelesaikan bumi babatannya kurang lebih seluas 10 hektar. Kyai Nurjalifah, selain seorang petani yang tangguh juga mempunyai kelebihan beberapa ilmu agama Islam dan ilmu karomah yang lainnya.

Pada tahun 1700 Masehi datanglah serombongan orang dari Mataram (Ngayogyakarta Hadiningrat) yang dipimpin oleh KRT. Purwodiningrat utusan dari Keraton Yogyakarta Hadiningrat, yang ditugaskan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono Ke I untuk mendirikan kota kadipaten yang letaknya ditepi Sungai Brantas dan tepatnya antara Desa Sentanan, Desa Pakuncen dan sekitarnya. KRT Purwodiningrat kemudian mengadakan pendekatan serta perundingan dengan Kyai Nurjalifah. Dan akhirnya mendapatkan kata sepakat dan mendapatkan dukungan dari para santri-santrinya serta masyarakat sekitarnya. Maka berdirilah kota kadipaten dengan Bupati pertamanya adalah KRT. Purwodiningrat. Kemudian kadipaten tersebut diberi nama Kadipaten Posono.

Atas keberhasilan berdirinya Kadipaten Posono tersebut, serta melihat kebijaksanaan dan kehebatan Kyai Nurjalifah maka Kyai Nurjalifah diangkat menjadi Senopati merangkap menjadi Demang. Setelah beberapa tahun kemudian, permaisuri dari KRT. Purwodiningrat wafat. Menurut persetujuan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, jenazah dimakamkan di bumi Kyai Nurjalifah di belakang Masjid. 

Baca Juga : Pemkab Nganjuk Peringati Boyong Pemerintahan Dengan Kirab dan Sedekah Bumi

Pemakaman permaisuri KRT, Purwodiningrat dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Sri Sultan HB I. Pada waktu itulah mulai diadakannya perjanjian antara Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dengan Kyai Nurjalifah.
Isi Perjanjian: 

  1. Kyai Nurjalifah diberi anugerah bahwa tanah babatannya seluas kurang lebih 10 hektar dibebaskan pajak/tanah perdikan. Sebab salah satu tanahnya untuk pemakaman keluarga dari Sri Sultan HB I.
  2. Kyai Nurjalifah diangkat menjadi juru kunci yang pertama untuk menjaga dan merawat makam keluarga KRT. Purwodiningrat, beserta programnya yang dilaksanakan secara rutin dan turun-temurun.
  3. Dusun Kauman diganti dengan nama Pakuncen disebabkan pesarean dan penyerahan kunci cungkup makam keluarga KRT. Purwodiningrat menjadi tanggungjawab Kyai Nurjalifah.

Pisowanan Agung adalah merupakan tradisi adiluhung yang menunjukkan hubungan antara raja/sultan/dengan rakyatnya dengan Tuhan, Tuhan dengan umatnya. Sebenarnya Pisowanan Agung sudah ada sejak masa kerajaan, dengan istilah “Topo Pepe”. Yaitu rakyat menunggu raja di depan kerajaan dengan berpanas-panasan hingga raja/sultan menemui mereka. Menurut Sejarah Keraton Yogyakarta dijelaskan bahwa kalimat pisowanan Agung berasal dari Bahasa Jawa dari kata Sowan yang berarti bertemu dan Agung berarti besar, jadi Pisowanan Agung adalah pertemuan besar antara raja dengan rakyatnya. Pisowanan Agung merupakan sarana dialog atau menyampaikan keluh kesah terhadap pemimpin melalui tindakan pepe. (Tim)

0 Komentar