Pemkab Nganjuk Peringati Boyong Pemerintahan Dengan Kirab dan Sedekah Bumi

Tonggak Sejarah 143 Tahun Perpindahan Pusat Pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk

Nganjuk, PING - Ribuan masyarakat Kabupaten Nganjuk hari ini tumpah ruah di sepanjang jalan utama Berbek menuju Nganjuk untuk menyaksikan Kirab Prosesi Boyongan Pusat Pemerintahan Nganjuk. Momentum ini merupakan pertama kalinya digelar untuk menandai tonggak berdirinya Pemerintahan Kabupaten Nganjuk.

"Disebut sebagai tonggak berdirinya Pemerintahan, lantaran boyongan yang terjadi pada tahun 1880 itu diyakini sebagai tahun pindahnya tempat pusat pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk," demikian disampaikan Kang Marhaen sapaan akrab Bupati Nganjuk saat upacara pemberangkatan boyongan di Balai Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Selasa (06/06/2023).

Baca Juga : Pawai Alegoris dan Kirab Pusaka Tandai Napak Tilas Sejarah Nganjuk yang Ke-1086

Dikatakan Kang Marhaen, peringatan hari boyongan pusat pemerintahan ini dikuatkan dengan adanya Surat Keputusan Bupati Nganjuk Nomor 188/200/K/411.013/2022 yang telah menentapkan tanggal 06 Juni sebagai Hari Boyongan Pusat Pemerintahan dari Berbek ke Nganjuk.

"Tentunya, banyak filosofi yang diangkat selama kurang lebih 143 tahun ini. Makanya pemerintah daerah tidak menciptakan sendiri, tetapi ini hasil dari menggali sejarah tersebut yang kemudian ditetapkan dalam bentuk SK Bupati. Alhamdulillah kalau tanggal 10 April itu Hari Jadi Nganjuk dan tanggal 06 Juni sebagai Hari Boyong Kabupaten, dari Berbek ke Nganjuk," terangnya.

Tidak hanya itu, Kang Marhaen juga menuturkan bersamaan di hari istimewa ini Pemerintah juga mengangkat suatu kearifan lokal untuk menjadi identitas Kabupaten Nganjuk, yakni sedekah bumi.

Baca Juga : Pawai Alegoris dan Boyongan Pusaka Tandai Peringatan Hari Jadi Nganjuk ke 1085

"Sedekah bumi ini memiliki banyak makna, makna yang perlu diresapi adalah dimana kita selalu diberi limpahan rezeki hasil dari bumi. Maka untuk mensyukuri itu, diganti melalui sedekah bumi yang nantinya akan dinimkati oleh masyarakat," tandas Kang Marhaen.

Lebih lanjut Kang Marhaen menyampaikan makna dari kegiatan ini semuanya adalah semangat gotong royong. Oleh karena itu, pihaknya mengajak seluruh jajaranya beserta masyarakat Nganjuk untuk berkolaborasi bersama membranding Hari Boyong Pemerintahan ini dan dikemas dengan agenda sedekah bumi.

"Atas nama pemerintah daerah, boyong Kabupaten Nganjuk dan sedekah bumi secara resmi kita berangkatkan bersama-sama. Semoga perjalanan Nganjuk seperti yang kita idam-idamkan menjadi tanah yang gemah ripah loh jinawi dan dijauhkan dari mara bahaya," harapnya.

Perlu diketahui, prosesi ini tampak lebih meriah lagi. Pasalnya kirab boyongan tersebut melibatkan semua Pejabat di Pemerintah Kabupaten Nganjuk hingga pengusaha dan tokoh masyarakat Nganjuk. Mereka pun tampak mengenakan pakian adat dan diarak menggunakan kendaraan kuno dari Berbek menuju Nganjuk.

Baca Juga : HUT Nganjuk ke 1086 Tahun, Bangkit Melesat Menuju Nganjuk Maju, Bermartabat dan Sejahtera

Selanjutnya, prosesi boyongan pemerintahan disambut dengan arak-arakan sedekah bumi dari Taman Nyawiji menuju Pendopo K.R.T Sosrokoesoemo.

Setibanya di Pendopo K.R.T Sosrokoesoemo, acara dilanjut dengan prosesi treatikal. Dalam prosesi ini, para tamu undangan disuguhkan sejarah singkat Boyong Pemerintahan yang diperagakan mulai dari depan gerbang hingga masuk ke dalam Pendopo sebagai simbol perpindahan Kabupaten Nganjuk.

Di penghujung acara warga yang menyaksikan di seputaran Jalan Basuki Rahmad itu pun semakin riuh, lantaran Bupati Nganjuk berjalan menuju ke jalan depan Pendopo K.R.T Sosrokoesoemo guna menilai hiasan tumpeng dan menyaksikan masyarakat menikmati hasil bumi yang ada di gunungan Hari Boyongan Pusat Pemerintahan Kabupaten Nganjuk ke 143 dan Sedekah Bumi.(Hs/Zk/Nr/Alp)

0 Komentar