Orientasi Tim Pendamping Keluarga (TPK), Cegah Stunting dan Tumbuhkan SDM Berkualitas

Cegah stunting, TPK beri konseling, edukasi, dan pemahaman kepada keluarga

Nganjuk, PING- Dalam rangka percepatan penurunan angka stunting, Dinas Pengendalin Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinas PPKB) Kabupaten Nganjuk melaksanakan pelatihan Orientasi bagi Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kecamatan Bagor, Rabu (8/3/2023).

Bertempat di Ruang Pertemuan Kantor Desa Karangtengah, Kecamatan Bagor, Orientasi diikuti oleh 54 peserta TPK. Terdiri dari Bidan Desa, Kader TP PKK Desa, Kader Penyuluh KB dan Kader Posyandu Desa se Kecamatan Bagor.

Pelatihan orientasi TPK dibuka langsung oleh Camat Bagor, Suwarno. Dalam arahannya Camat Suwarno, menyampaikan terima kasih dan apresiasinya atas terselenggaranya orientasi bagi tim pendamping keluarga di Kecamatan Bagor.

Stunting sebagai isu strategis nasional, diharapkan Camat Suwarno, TPK akan menjadi ujung tombak dalam percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Nganjuk. Khususnya di Wilayah Kecamatan Bagor. Karena berhasilnya turun angka stunting sangat ditentukan dari cara penanganan dan pencegahannya di tingkat bawah. “Yakni di level terkecil adalah keluarga,” tegasnya.

“Dengan adanya TPK ini, nantinya akan turun langsung ke lapangan sehingga mengetahui masalah yang ada di lingkup terkecil di tingkat Desa/Kelurahan hingga keluarga,” tambahnya sembari menyebut di tingkat Kabupaten ada Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS).

Berikan pemahaman, edukasi, dan pendampingan atau konseling kepada keluarga, kata Camat Suwarno kepada TPK, mulai dari tingkat remaja, calon pengantin (Catin), calon pasangan usia subur, dan ibu hamil serta ibu menyusui. Sehingga mereka akan memahami dan dapat merencanakan kehidupan berumahtangga yang sejahtera.

“Karena berencana itu keren,” kata Suwarno yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Dinas PPKB Kabupaten Nganjuk tersebut.

Sementara itu, S. Kundarina selaku Kabid Pemberdayaan Keluarga Dinas PPKB Kabupaten Nganjuk menjelaskan menyiapkan generasi yang berkualitas harus dimulai dari awal. Peran keluarga inilah hal yang perlu dioptimalkan, dalam membentuk generasi yang berkualitas dan unggul.

“Tugas dari TPK adalah mendampingi keluarga. Komunikasi, edukasi, dan laporkan. Sasarannya, yakni calon pengantin (catin), ibu hamil, pasca persalinan dan baduta/balita. Dengan harapan tidak akan ada stunting-stuntig baru di Kabupaten Nganjuk,” bebernya.

“Memastikan setiap calon pengantin (catin) berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil,” tegasnya.

Seribu hari kehamilan menurut S Kundariana, adalah masa-masa penting dalam pemenuhan gizi seimbang. Menentukan stunting ada atau tidak. “Dimulai sejak masa kehamilan, masa bayi, hingga usia dua tahun,” tukasnya sembari menyebut stunting  merupakan  sebuah  kondisi gagal pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak-anak akibat kurangnya asupan gizi dalam waktu lama dan infeksi berulang.

Untuk itu, Badan Kependudukan dan Keluarga Bencana (BKKBN), kata S. Kundariana, meluncurkan aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil) yang merupakan aplikasi yang berfungsi sebagai alat skrining untuk mendeteksi faktor risiko pada calon pengantin dalam rangka penanganan stunting. “Sebagai sarana pendampingan berbasis aplikasi TPK,” imbuhnya.

Sebagai informasi, pada pelatihan ini Tim Pendamping Keluarga juga dilatih pengunaan aplikasi Elsimil sebagai sarana pendampingan berbasis aplikasi. Kegiatan orientasi ini juga dilakukan di 5 (lima) Kecamatan lainnya pada Rabu, (8/3/2023). Yakni di Kecamatan Pace, Bagor, Jatikalen, Lengkong, dan Prambon. (ZK/RL)

0 Komentar