May Day, Mengenang Sosok Marsinah Pejuang Hak Buruh

Marsinah ikon perjuangan kaum buruh lahir di Desa Nglundo Kecamatan Sukomoro Kabupaten Nganjuk

Nganjuk, PING- Tanggal 1 Mei menjadi hari bersejarah bagi para buruh di seluruh belahan dunia. 1 Mei ditetapkan sebagai Hari Buruh Internasional (May Day) sebagai momentum bersejarah perjuangan para buruh dalam memperjuangkan hak-haknya yang belum terpenuhi dengan baik oleh perusahaan dan pemerintah.

Termasuk di Indonesia, 1 Mei atau May Day seringkali diperingati oleh buruh di tanah air. Mereka (buruh) menyuarakan tentang keadilan bagi buruh, dan keperpihakan pada buruh. Hari Buruh pun selalu menjadi momen untuk merenung dan mengambil pelajaran berharga mengenai pekerjaan dan perjuangan setiap orang (buruh/pekerja).

Kini, hak buruh perlahan mulai dilihat oleh pemerintah. Hak-hak buruh menjadi prioritas bagi pemerintah agar  buruh lebih sejahtera.

Dalam perjuangannya, kaum buruh selalu aktif menyuarakan hak-haknya dengan cara turun ke jalan (aksi demo). Sosok Marsinah perempuan (buruh) yang dikenal dan dikenang sebagai pahlawan buruh. Marsinah menjadi ikon bagi para buruh dalam peringatan May Day dikenal aktif memperjuangkan hak-hak para buruh.

Mengenal Sosok Marsinah

Hingga kini, nama Marsinah lekat menjadi ikon perjuangan kaum buruh melawan penindasan atau ketidakadilan pada buruh. Marsinah merupakan aktivis buruh yang dibunuh dengan keji pada masa Orde Baru.

Marsinah lahir pada 10 April 1969 di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Ia merupakan anak kedua dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan. Kakaknya bernama Marsini dan adiknya adalah Wijiati.

Sementara itu, ayah Marsinah bernama Astin dan ibunya adalah Sumini. Keluarga mereka tinggal di desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Kabupaten Nganjuk.

Ketika Marsinah berusia tiga tahun, sang ibu meninggal dunia. Sejak itu, Marsinah tinggal dan diasuh oleh neneknya, Paerah. Mereka tinggal bersama dengan paman dan bibinya.

Sejak kecil, Marsinah sudah terbiasa bekerja keras. Sepulang sekolah, ia selalu membantu neneknya menjual hasil jagung dan gabah. Selain pekerja keras, Marsinah juga dikenal sebagai anak yang pintar, dan gemar mambaca.

Marsinah sekolah hingga tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi karena terkendala biaya.

Para guru dan teman-teman di sekolah dasar (SD) tempat Marsinah belajar menceritakan ia adalah seorang anak perempuan yang pintar, suka membaca, dan kritis.

Setamat SD, Marsinah melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 5 Nganjuk. Setelah lulus SMP pada 1982, Marsinah kemudian mengenyam pendidikan lanjutan di SMA Muhammadiyah dengan bantuan biaya dari pamannya. Marsinahpun sempat bercita-cita berkuliah di fakultas hukum. Namun, karena kendala biaya, mimpi Marsinah untuk melanjutkan pendidikan pun sirna.

Selanjutnya, Marsinah memulai masa dewasanya dengan merantau dan tinggal di rumah kakaknya, Marsini yang berada di Surabaya pada tahun 1989 setelah lulus dari SMA.

Perempuan muda itu, bekerja di pabrik plastik yang berada di Kawasan Industri Rungkut sembari berjualan nasi bungkus untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari karena gajinya sangat jauh dari kata layak kala itu.

Marsinah Pejuang Buruh

Marsinah merupakan buruh di PT Catur Putra Surya (CPS), sebuah pabrik pembuat jam yang berada di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur.

Semasa hidup, Marsinah dikenal vokal menyuarakan hak-hak kaum buruh. Perjuangan Marsinah pun terpaksa terhenti setelah dinyatakan meninggal dunia, dibunuh pada 8 Mei 1993.

Jenazah Marsinah ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sebuah gubuk di Dusun Jegong, Desa Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 200 km dari tempatnya bekerja, pada 9 Mei 1993.

Saat itu sekujur tubuh Marsinah ditemukan penuh luka dan beberapa tulangnya retak dan patah.

Beberapa hari sebelum Marsinah ditemukan meninggal dunia, dirinya telah melakukan aksi untuk menuntuk hak para buruh yang bekerja di perusahaan tempatnya bekerja.

Pembunuhan seorang perempuan ini pun menjadi salah satu kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang pernah terjadi di Indonesia dan menarik perhatian dunia.

Bentuk Bela Sungkawa Kepada Marsinah:

  • Setiap perayaan Hari Buruh Internasional yang diperingati tanggal 1 Mei, para buruh, khususnya di Jawa Timur, selalu mengenang perjuangan Marsinah. Para buruh pun telah mengusulkan kepada pemerintah agar Marsinah diberi gelar Pahlawan Nasional, namun belum ada tindak lanjut hingga kini.
  • Monumen perjuangan Marsinah sebagai pahlawan buruh nasional telah dibangun di Nganjuk, Jawa Timur.
  • Kisah Marsinah ini kemudian diangkat menjadi sebuah film oleh Slamet Rahardjo, dengan judul "Marsinah (Cry Justice)" (imdb.com). Film berbiaya sekitar Rp 4 miliar itu sempat menimbulkan kontroversi. Salah satu penyebabnya adalah munculnya permintaan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea yang meminta pemutaran film itu ditunda.
  • Seniman Surabaya dengan koordinasi penyanyi keroncong senior Mus Mulyadi meluncurkan album musik dengan judul Marsinah. Lagu ini diciptakan oleh komponis MasGat untuk mengenang jasa-jasa Marsinah.
  • Sebuah band beraliran anarko-punk yang berasal dari Jakarta bernama Marjinal, menciptakan sebuah lagu berjudul Marsinah, yang didedikasikan khusus untuk perjuangan Marsinah. Lagu ini dibawakan sekaligus dalam 2 albumnya, yaitu album termarjinalkan dan album terbaru mereka bertajuk predator, masing-masing dalam versi yang berbeda.

Sumber: CNBC Indonesia, Marsinah & Deretan "Pahlawan Buruh" yang Tak Lelah Berjuang;Wikipedia.org, Marsinah;Haluan.com, Hari Buruh Sedunia Identik dengan Perjuangan, Masih Ingat Marsinah Buruh Wanita yang Tewas Dibunuh?;Kompas.com, Kisah Marsinah, Aktivis Buruh yang Dibunuh pada Masa Orde Baru

0 Komentar