Cegah Kekerasan pada Perempuan dan Anak, Dinsos PPPA Ajak Orang Tua Peduli dan Perhatikan Anak

Kekerasan tidak hanya soal fisik tapi juga psikis

Nganjuk, PING- Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kabupaten Nganjuk, terus berupaya melindungi hak-hak perempuan dan anak guna mencegah serta menekan terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Hal tersebut disampaikan oleh Nikmatul, saat menjadi narasumber dalam program talkshow dengan tema 'Pencegahan dan Penanganan Kasus Perlindungan Perempuan dan Anak', di studio RSAL FM, Kamis (12/10/2023).

Dipandu host Asty Hanifa, Nikmatul selaku analisis muda Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Dinsos PPPA menginformasikan bahwa ada 3 seksi di bidangnya, diantaranya perlindungan perempuan, perlindungan anak, dan pengarusutamaan hak anak.

"Tugas kami yakni mengadakan kegiatan pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk melindungi perempuan dan anak di wilayah Kabupaten Nganjuk," terangnya.

Dalam upaya pencegahan kasus kekerasan pada perempuan dan anak tersebut, pihaknya telah melakukan berbagai kegiatan baik di kantor Dinsos PPPA sendiri maupun ke instansi-instansi pendidikan. Dalam waktu dekat juga telah dilakukan sosialisasi kepada guru bimbingan konseling sekolah se-Kabupaten Nganjuk.

"Selama ini kami telah melakukan berbagai kegiatan, misalnya roadshow. Jadi kita keliling ke sekolah menghadirkan murid, guru bahkan wali murid. Dengan narasumber dari PPA Polres Nganjuk, Woman Crisis Centre (WCC), dan dari Dinsos sendiri. Di sana kita sampaikan materi tentang manajemen kasus, bagaimana jika ada perempuan/anak yang mengalami atau mengetahui terjadinya kekerasan itu. Kemarin juga kita telah mengundang guru-guru BK yang sangat penting perannya karena menjadi kepanjangan dari tangan Dinsos dalam mengawasi dan melindungi anak-anak didik kita di lingkungan sekolah," urainya.

Kekerasan pada anak itu tidak hanya soal fisik, tetapi ada juga penelantaran, kekerasan fisik, dan kekerasan psikis/batin. Nikmah (sapaan akrabnya) mengatakan, bahwa anak itu memiliki hak-hak yang harus terpenuhi.

"Pemenuhan hak anak itu bagaimana anak terpenuhi hak-haknya.  Macam-macam hak anak itu ada hak hidup, hak kesehatan, dan hak pendidikan. Tidak boleh anak itu masih usia sekolah tapi tidak mendapatkan pendidikan yang baik, misalnya kita sering menemui di lampu merah, masih usia sekolah tapi mengamen dan sebagainya, ini perlu mendapat perhatian," ungkap Nikmah.

Lebih lanjut, Nikmah mengenalkan Fantasi (Forum Anak Nganjuk Jembatan Aspirasi), di dalamnya anak diberikan kebebasan untuk berinovasi dan berkreasi, termasuk melibatkan mereka dalam musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang) karena anak adalah bagian dari masyarakat yang berhak memberikan pendapat dan aspirasinya terhadap pembangunan.

"Kami juga ada Fantasi, setiap awal tahun diadakan rekrutmen pengurusnya usia 14-18 tahun. Di sana ada fasilitator untuk mendampingi. Proses rekrutmennya ada wawancara pengiriman portofolio dari semua SMA/SMK se-Kabupaten Nganjuk. Kami memberikan ruang untuk berkreasi dan berinovasi di dalamnya, termasuk melibatkan mereka dalam perencanaan pembangunan Nganjuk.Semboyannya 'Menjadi Pelopor dan Menjadi Pelapor'. Pelopor dalam arti menjadi teladan dan memberikan motivasi kepada teman-temannya. Pelapor, bagaimana dia peka jika menemui hal kekerasan terhadap perempuan dan anak di sekitarnya," paparnya.

Nikmah berharap, seluruh orang tua dan masyarakat saling peduli dan senantiasa memperhatikan anaknya, tidak hanya fisik, tapi juga psikisnya agar perempuan dan anak di Kabupaten Nganjuk terhindar dari berbagai hal negatif khususnya kekerasan.

"Intinya kami sangat mengharap bantuan dari semua pihak, bagaimana kita saling peduli jika menemui adanya kekerasan anak/perempuan kita siap menerima untuk dilaporkan kepada kami akan kami tindak lanjuti sesuai porsinya. Dapat juga datang ke Jl. Kapten Tendean Kantor WCC Nganjuk. InsyaAllah kami siap membantu," pungkasnya.

Dalam konteks yang sama, Puri Rahayu, selaku staf Bidang PPA Dinsos menambahkan hak hidup anak ada 4 hak yang meliputi hak kelangsungan hidup, hak perlindungan, hak tumbuh kembang, dan hak berpartisipasi.

"Kebutuhan anak itu bukan hanya makan, minum, diberikan uang jajan, tapi juga kebutuhan batinnya. Jadi orang tua harus tahu, dan memperhatikan anak dalam setiap aktivitasnya setiap hari. Misalnya menanyakan hal yang terjadi saat di sekolah, tadi gimana di sekolah?. Intinya adalah komunikasi yang intens antara orang tua dan anak. Antara keduanya harus memiliki kesadaran yang sama," tuturnya. (Yos/Cy)

0 Komentar