Cegah Kanker Nasofaring dengan Mengurangi Konsumsi Makanan Berpengawet dan Tinggi Garam

Jika ada keluhan telinga disertai keluhan hidung dan terjadi lebih dari 1 bulan, segera periksa diri ke dokter spesialis THT

Nganjuk, PING– Kebiasaan masyarakat mengonsumsi makanan berpengawet dan asin ternyata memiliki resiko kesehatan tinggi. Salah satunya ancaman penyakit kanker nasofaring. Nasofaring adalah salah satu bagian tenggorokan. Posisinya terletak di belakang rongga hidung dan di balik langit-langit mulut. Ketika terkena kanker nasofaring, seseorang dapat mengalami gejala berupa gangguan berbicara, mendengar, atau bernapas.

“Karsinoma Nasofaring atau Kanker Nasofaring adalah tumor ganas yang menyerang area tenggorokan dan paling sering terjadi di antara jenis kanker yang menyerang kepala dan leher,” tutur dr. Lenny Buana selaku Wakil Direktur Pelayanan dan Dokter Spesialis THT di RSD Nganjuk saat menjadi narasumber dalam program talkshow 105,3 RSAL FM, Rabu(25/10/2023).

dr. Lenny mengatakan, pada penderita kanker nasofaring, gejala yang ditimbulkan dapat dibagi menjadi gejala awal dan gejala lanjut. Gejala awal yang biasanya muncul antara lain telinga berdenging, terasa penuh dan kemampuan pendengaran yang menurun. Selain itu, hidung penderita akan merasa tersumbat karena pilek yang kronik hingga terdapat lendir bercampur dengan darah. 

Baca Juga : Hari Dokter Nasional 2023: Kesehatan Milik Bersama

Sedangkan gejala lanjut yang dialami oleh penderita kanker nasofaring meliputi adanya gejala perluasan intrakranial yang ditandai dengan sakit kepala kronik, mata juling (diplopia), nyeri wajah, wajah kebas dan munculnya benjolan leher yang semakin lama semakin membesar namun tidak menimbulkan nyeri.

“Tipsnya, kalau ada keluhan telinga disertai keluhan hidung dan terjadi lebih dari 1 bulan maka sebaiknya waspada dan segera melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis THT,” pesannya.

“Sakit itu pasti. Tapi perlu diingat sisi positifnya, semakin cepat ketahuan maka angka kesembuhan bisa mencapai 80-90 %,” tambahnya.

Dijelaskan dr. Lenny, Kanker Nasofaring penyebabnya multi faktor atau banyak faktor. Dan faktor tersebut tidak berdiri sendiri-sendiri tapi terjadi bersamaan pada pasien. Ada faktor genetik/ keturunan dan faktor makanan yang diawetkan baik alami maupun ilmiah. 

dr. Lenny membeberkan untuk Kanker Nasofaring tidak dilakukan operasi melainkan dengan memberikan radiasi / penyinaran dan pemberian suntik obat anti kanker/kemoterapi.

“Untuk radiasi bisa dilakukan di tempat-tempat tertentu salah satunya di Rumah Sakit  Dr. Soetomo Surabaya dan Rumah Sakit Angkatan Laut. Sedangkan untuk Kemoterapi bisa dilakukan di Kabupaten Nganjuk karena kita sudah buka pelayanan kemoterapi baik untuk masyarakat umum atau BPJS,”ungkapnya.

Baca Juga : Hari Kesehatan Nasional ke- 59, Dinkes Gelar Lomba Poster dan Video Tiktok

Lebih lanjut, dr. Lenny menghimbau kepada masyarakat Kabupaten Nganjuk untuk sering melakukan pemeriksaan ke Dokter Spesialis THT minimal 6 bulan sekali baik untuk anak-anak dan dewasa. “Untuk anak-anak biasanya dilakukan pemeriksaan oleh puskemas di sekolah untuk dilakukan screening indra penglihatan dan pendengaran,” ujarnya.

Untuk menghindari terjadinya kanker nasofaring, dr. Lenny menyebut sebaiknya mengurangi konsumsi makanan berpengawet, makanan yang diolah dengan pengasapan, serta mengurangi merokok dan alkohol.

“Apabila mengalami gejala seperti di atas dan jika dalam 1 bulan keluhan tidak ada perbaikan, segera periksa ke Dokter Spesialis THT agar cepat tertangani karena kanker nasofaring ini dapat sembuh total,” tandasnya. (Yos/Cs)

0 Komentar