Pemerintah Kabupaten Nganjuk

  • Perbesar ukuran huruf
  • Ukuran huruf bawaan asli
  • Perkecil ukuran huruf
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H, Minal Aidzin wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir & Batin

Berani ‘’Bonek’’ Siswanto Mendulang Rupiah

Surel Cetak PDF

Adalah Siswanto. Pria asal Dusun Sumberwungu, Desa Banjaranyar, Kecamatan Tanjunganom ini memang termasuk ‘’bonek’’ alias bondo nekat. Bagaimana tidak. Menjadi petani memang sudah darah dagingnya. Namun dengan modal bonek itulah, akhirnya buah manis pun saat ini sudah diraihnya.
Awalnya, Siswanto yang memang dikenal ulet dan tekun ini sudah bertahun-tahun menjadi petani. Bahkan untuk menambah ekonomi keluarga yang dibangunnya dengan Kartikowati, pasangan muda ini membuka toko pracangan di rumah sang mertua. Sedikit demi sedikit keluarga dengan satu putra ini mampu meningkatkan pemasukan sehingga kehidupannya pun cukup.

Namun jiwa muda Siswanto ternyata tidak hanya mau berhenti dengan dua profesi itu. Dengan kemauan kerasnya, pria 38 tahun ini mulai tertarik untuk belajar komputer yang diperoleh dari adiknya yang seorang anggota Polri. Dari situ dia tertarik untuk membuat gambar sehingga dia memutuskan untuk mencoba menyablon kaos-kaos oblong polos dengan gambar-gambar sederhana yang dia buat sendiri lewat komputer tadi. 
Bapak seorang putri ini mengembangkan idenya dengan pemikiran bagaimana kalau kaos yang disablonnya itu tanpa membeli kaos jadi, yaitu dengan membuat sendiri. Jadi hanya membeli kainnya saja. Ternyata dia berhasil mengembangkan idenya dengan membeli mesin jahit sehingga biaya yang dibutuhkan untuk membeli kaos menjadi lebih murah.  
Usaha yang dia tekuni mulai setahun yang lalu kini mulai membuahkan hasil. Banyak pesanan yang datang. Bahkan pesanan yang semula bisa dikerjakan sendiri bersama istrinya mulai tidak bisa tertangani. Sehingga Siswanto mulai merekrut tenaga kerja dari sekitar tempat tinggalnya.  
Saat ini usaha konveksi yang dikembangkan Siswanto bukan hanya untuk menghidupi keluarganya saja. Tapi juga untuk menghidupi masyarakat di sekitarnya walaupun jumlah tenaga kerja yang dia pakai saat ini hanya 4 orang. “Ya syukurlah pesanan ada saja walaupun jumlahnya tidak terlalu banyak. Karena saat ini mesinnya terbatas,” ungkap Siswanto ketika ditemui Deal.
Dia juga menjelaskan bahwa selama ini dirinya tidak menyimpan atau menyetok barang jadi. Tapi hanya melayani pesanan. “Biasanya kami tidak menyetok barang jadi, kami hanya mengerjakan berdasarkan pesanan dari konsumen. Sehingga dapat meminimalisir tingkat kerugian. Barang yang ada ini hanya untuk contoh saja, selanjutnya konsumen memesan sesuai selera mereka,” lanjut Siswanto
Saat ini kapasitas maksimal produksi konveksi Siswanto sekitar 25.000 potong per bulan. Sedangkan jika ada pesanan yang diatas jumlah tersebut dia belum mampu menangani. Pasalnya, hingga saat ini dia masih menggunakan sablon manual. 
Hanya saja, sambung Siswanto, saat ini dia terhambat masalah modal. Sebab, sampai sekarang belum ada pinjaman modal dari pihak lain terutama pemerintah. Dia sangat berharap uluran tangan pemerintah dalam mengembangkan usahanya agar lebih maju. Selain itu juga masalah pemasaran, dia mengatakan kalah bersaing dengan konveksi dengan kapasitas besar yang jelas punya budget pemasaran lebih tinggi. (jn)